Jumat, 23 Januari 2015

contoh pidato penyampaian visi dan misi calon ketua OSIS



Haii...!! ketemu lagi dengan saya admin blog ini. kali ini saya akan mem posting tentang contoh pidato penyampaian visi dan misi calon ketua OSIS, karena kebetulan saya di pilih sebagai kandidatnya dan alhamdulillah nya juga saya terpilih. inilah pidato saya.....

Visi dan Misi Ketua OSIS
Assalamualaikum wr. Wb.
Sebagai kandidat ketua osis disini saya perlu menyampaikan visi dan misi saya.
Visi saya jika saya terpilih menjadi ketua osis masa bhakti 2014/2015 adalah
1.        menjadikan osis MTsN keki menjadi organisasi yang CERMAT(cerdas,edukatif,rajin,mutu tinggi,antusias,dan takwa) sekaligus mengharumkan nama baik MTsN keki didalam atau diluar sekolah.
2.        menjadikan siswa MTsN keki menjadi siswa yang dispilin,bertanggung jawab, berprestasi, kreatif,inovatif, dan berakhlak mulia dilandasi dengan iman dan takwa kepada tuhan YME.
Misi saya jika saya terpilih menjadi ketua osis masa bhakti 2014/2015 adalah sebagai berikut:
  1.  Menumbuh kembangkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT melalui kegiatan kegiatan keagamaan
  2. mengadakan program2 kerja yang bermanfaat dan berdaya guna bagi siswa siswi MTsN keki baik itu program kerja akademis maupun non akademis.
  3. meningkatkan kedisiplinan dengan mentaati peraturan yang ada dan dengan menumbuhkembangkan kesadaran akan pentingnya tanggung jawab dan  kedisiplinan itu sendiri.
  4. Menjadikan OSIS sebagai contoh teladan untuk kedisiplinan siswa dan siswi MTsN keki.
  5. mengadakan kegiatan yang dapat memacu kreatifitas siswa dan siswi,kegiatan yang dapat menggali potensi,penyaluran bakat dan minat di bidang seni,olahraga,agama dan sebagainya.sehingga siswa dapat menjadi pribadi yang siap berbaur dengan masyarakat.
  6. menjadikan MTsN keki sebagai wadah bagi siswa dalam menuangkan aspirasi,berkarya,berkreasi,berprestasi,dan menggapai cita cita.
  7. Meneruskan dan meningkatkan program kerja yang belum dan sudah terlaksana oleh OSIS sebelumya dan semoga menjadi lebih baik.

Demikian uraian visi dan misi saya sebagai kandidat ketua osis masa bhakti 2014/2015,tentunya bantuan serta dukungan dari teman teman serta tak lupa juga restu dari bapak dan ibu guru MTsN keki yang terhormat yang selalu saya nanti nantikan untuk membantu terwujudnya visi dan misi saya nanti, jika kelak terpilih menjadi ketua osis.
Terimakasih,wassalamualaikum wr. Wb.

Selasa, 20 Januari 2015

peninggalan peradaban islam



Peninggalan peradaban islam


PENINGGALAN DINASTI ABBASIYAH
Benteng al-Ukhaider
 
Benteng al-Ukhaider terletak di padang pasir berjarak 48 km dari kota Karbala dan 150 km di selatan kota Baghdad, Irak. Benteng al-Ukhaider I merupakan salah satu benteng yang paling indah dari jejak-jejak peninggalan kekuasaan Muslim. Tembok luar dari benteng tersebut masih lengkap dan terawat dengan baik.
Benteng ini dibangun oleh salah seorang pemimpin dari Dinasti Abbasiyah yang pernah berkuasa di Irak yakni Isa ibn Musa pada 774 hingga 775 M. Di dalam benteng tersebut juga dibangun masjid dan tempat tinggal semacam aparteman. Arsitektur dari benteng tersebut sangat indah dan sangat menggambarkan arsitektur Islam.
Pada saat terjadinya perang Teluk yang terjadi antara Irak dan Kuwait pada 1991, benteng tersebut pernah diserang oleh dua pesawat terbang. Namun benteng peninggalan Dinasti Abbasiyah tersebut tetap berdiri dengan kokohnya tanpa ada kerusakan yang cukup berarti. Hal ini merupakan bukti kemampuan teknik bangunan yang tinggi dari arsiteknya.
Pada zaman dulu, benteng Al Ukhaider sering menghubungkan antara Irak dengan dunia luar. Selain itu, banyak para kafilah, pedagang dan orang-orang nomaden seperti Atshan dan Mujdah yang sering singgah di benteng tersebut. Selain untuk singgah, benteng tersebut juga berfungsi melindungi wilayah-wilayah di sekitarnya dari serangan orang asing.
Masjid ibn. Tholud
Masjid Ibn Thoulun dibangun pada masa dinasti Abbasiyah, dibangun oleh Ahmad Ibn Thoulun yang merupakan gubernur pada masa itu dan berkuasa antara tahun 868-884 Masehi. Masjid ini sebenarnya berada di atas sebuah bukit kecil yang bernama Gabal Yashkur, namun karena saat ini sudah menjadi kawasan pemukiman padat maka bukitnya sudah tidak terlihat lagi. Menurut sejarah masjid ini adalah masjid istana dan letaknya berdekatan dengan istana Ibn Thoulun, tapi pada abad awal abad 10 bangunan istananya di runtuhkan sehingga peninggalan dinasti Tulunid hanya berupa masjid ini saja.
Ruangan masjid Ibn Thoulun hampir tidak bersekat dan berdaun pintu, terdiri dari pilar-pilar dengan bentuk melengkung. Bagian pilar masjid terdapat ragam hias berupa ukiran dan kaligrafi. Mimbar untuk khutbah berada di atas, mirip sebuah panggung.
arsitektur masjid ini sangat berbeda dengan arsitektur masjid di Mesir pada umumnya. Masjid yang berbentuk persegi dengan halaman tengah yang luas, hanya memiliki 1 menara tapi tidak memiliki kubah kecuali pada bagian ablution fountain (tempat wudhu) atau dalam bahasa arab disebut sabil yang berada di halaman tengah masjid. Menara spiral yang berfungsi untuk tempat menyerukan adzan inilah yang menjadi salah satu ciri khas masjid ini. Arsitektur masjid relatif simple dan tidak banyak detail seperti yang terdapat pada masjid-masjid di Mesir. Masjid Ibn Thoulun merupakan bangunan masjid tertua kedua di Mesir setelah masjid Amru bin Aas.
Mimbar Shibam



masjid shibam didirikan oleh Sahabat Nabi, Labid ibn Ziyâd al-An?ârî, ketika diutus oleh Rasulullah untuk membawa bendera Islam ke Negeri Yaman. Hingga saat ini, masjid Jâmi Shibam telah mengalami beberapa renovasi. Bahkan, bangunan otentik yang didirikan Sahabat Labid disinyalir sudah tidak tampak lagi.

Dalam perjalanan historisnya, masjid ini pernah populer dengan sebutan Masjid Harun al-Rasyid. Hal ini disebabkan karena pada pemerintahan Dinasti Abbasiyah, Khalifah Harun al-Rasyid berperan besar dalam memberikan instruksi untuk merenovasi serta merekonstruksi bangunan masjid hingga menjadi sebagaimana yang ada sekarang. Hal ini begitu tampak pada rancang bangun serta seni ukiran masjid yang bercorak khas arsitektur Abbasiyah. Dan sebagaimana masjid di negeri Yaman pada umumnya, masjid ini juga dilengkapi dengan menara putih nan tinggi. Selain masjid Jami’ Shibam, ada sekitar enam masjid tua lain yang masih berdiri kokoh, antara lain: Masjid Ba?adzib, Masjid Khawqah, dan Masjid al-Madrasah.

Tidak jauh dari masjid Jâmi Shibam, ada sebuah museum kecil bersejarah yang tentu tak boleh dilewatkan begitu saja, apalagi kalau bukan Museum Mimbar. Dari namanya, sudah dapat diprediksi bahwa museum sempit berukuran 10 x 15 meter ini memang menyimpan peninggalan berharga warisan Dinasti Abbasiyah yaitu mimbar kayu. Sebagaimana maklum, mimbar adalah susunan anak tangga yang berfungsi sebagai tempat seorang Imam dalam menyampaikan khutbah kepada para jamaah, khususnya pada ritual salat Jumat.

Mimbar Shibam menjadi saksi bisu bagaimana seorang pemimpin politis sebuah pemerintahan juga memiliki peran vital dalam bidang agama. Usianya yang berabad-abad telah membuat rapuh sebagian besar pilar kayunya, sehingga pemerintah Yaman memutuskan untuk menonfungsikan mimbar itu dan diabadikan sebagai warisan berharga peninggalan sejarah. Museum Mimbar baru dibuka tahun 2009 M, dengan dukungan Tim Teknisi dari Jerman serta donasi dana dari Sekretaris Umum Sektor Pariwisata dan Barang-Barang Purbakala Saudi Arabia,  Sultan ibn Salmin ibn Abd al-Aziz. Para pengunjung pun diperbolehkan untuk naik ke mimbar tersebut sekedar untuk berpose dan mengabadikan gambar.

PENINGGALAN DINASTI UMAYYAH
MASJID AGUNG DAMASKUS (SIRIA)

Damaskus sebuah kota terletak di tepian sungai Barada. Sejak tahun 64 SM dikuasai oleh Roma, pemerintah dan penduduknya memeluk agama Kristen. Pada tahun 636 M kekuasaan beralih ke tangan Arab yang muslin di bawah Muawiyah pendiri Dinasti Umayyah (661-750), menjadikan Damaskus pusat pemerintahan. Sejarah panjang kota Damaskus dengan berbagai pemerintahan berbeda agama dan budaya membuat banyak peninggalan arsitektur percampuran dari unsure-unsur gereja, kuil dan masjid. Gereja st. John  berasal dari sebuah kuil Romawi, dikelilingi tembok dirombak pada jaman Kristen. Kemudian al-Walid (705-15) mengambil alih dan menjadikannya masjid, hingga sekarang terkenal  dengan nama masjid Agung Damaskus.
Tembok keliling dirombak sehingga terbentuk pola Hypostyle yaitu berupa sebuah sahn yaitu halaman dalam berbentuk segi empat dikelilingi oleh bagian bangunan beratap. Sisi terpanjang sekitar 150 M, tegal lurus sumbu arah kiblat, sisi terpendeknya sekitar 95 M berimpit dengan arah kiblat. Luas masjid sekitar 14.250 M2 , denga bentuk denah tersebut, susunan jamaah dalam bersembahyang, melebar kea rah kiblat. Konstruksi, bentuk dan ornament-ornamen bagian depan sangat jelas mendapat pengaruh arsitektur Romawi.

MASJID AGUNG DI KUFA (IRAK)

Tercatat iyad ibn Abih, salah seorang gubernur dari pemerintahan Umayyah, masjid direnovasi dan perluas dengan ruang-ruang beratap datar disangga oleh kolom-kolom batu. Menurut Tabari (838-923) seorang sejarawan dan teolog, penentuan luas masjid dengan cara memerintahkan seseorang untuk melempar tombak ke empat arah mata angin, yang diarah kiblat (selatan) kemudian ditempatkan dinding kiblat, dengan cara ini ternyata dinding dan lajur kolom-kolom tepat kea rah kiblat.
Denah majid Kufa, berpola hypostyle seperti masjid Nabi. Di tengah terdapat halaman dalam atau sering disebut sahn atau zulla, dikelilingi oleh riwaq, haram atau ruang sembahyang yang utama. Selain dinding luar yang sangat tebal, di dalam tidak ada dinding. Denah terbentuk oleh dinding keliling tebal ini, hamper bujur sangkar, panjang masing-masing dinding sisi tidak banyak berbeda, lebih kurang 125 M. selain merenovasi Masjid agung, Ziyad ibn abih pada waktu bersamaan juga membangun istana, berfungsi selain sebagai tempat tinggal juga menjadi tempat admnistrasi pemerintahan. Bangunan sejenis ini kemudian disebut dar al-Imara, yang artinya rumah gubernur. Istana menempel dengan masjid, sebagian dinding utara istana, menjadi satu dengan dinding selatan masjid. Konon hal ini agar gubernur atau khalifah dapat masuk ke masjid tanpa melalui jamaah lainnya.

MASJID AGUNG KORDOBA (SPANYOL)

Masjid Agung Kordoba mula pertama dibangun oleh abdur Rahman I (756-788) pendiri dinasti Umayyah di Spanyol, melengkapi kota selain sebagai pusat pemerintahan juga pusat kebudayaan muslim. Masjid Agung Kordoba merupakan bentuk pengulangan arsitektur masjid Agung Damaskus. Membangun masjid pada lokasi dan bangunan peninggalan Kristen seperti masjid agung Damaskus. Pembangunan masjid dimulai pada 786 dan 787 di tepian sungai Guadalquivir.Denah masjid agung Kordoba juga memakai bentuk arsitektur klasik hypostyle. Mula pertama pada masa Abdur Rahman I, bentuknya segi empat panjang melebar, sisi panjang tidak kurang dari 80 M tegal lurus dengan kiblat, sisi pendek sekitar 40 M, terdiri dari 12 deretan kolom dan sebelas lajur.

KUBAH BATU KARANG

Abul Malik peguasa V (685-705) salah seorang pemimpin terkuat dari Dinasti Umayyah mempunyai perhatian besar pada Jerussalem. Dia membangun Kubah Batu (dome of the rock atau qubat al saka)di Jerussalem, higga saat ini menjadi salah satu monumen Islam terbesar. Kubah Batu karang terletak di atas buki karang dariGunung Moriah dibangun antara tahun 687-692. Gunung Moriah diidentifikasikan sebagai tempat Nabi Ibrahimakan mengorbankan putranya Nabi Ismail untuk dipersembahkan  kepada Allah kemudia dihentikan oleh malaikat.
Kubah Batu karang menjadi tempat suci ketiga dari Islam setelah mekah dan madinah, merupakan salah satu monumen Islam tertua di dunia. Puncak bukit Moriah dimana kubah batu karang ini berdiri dipercaya oleh umat islam sebagai tempat Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW.

Perbedaan arsitektur dinasti abbasiyah dengan dinasti umayyah

peradaban Abbasiyah, seperti yang terdapat di Raqqah, abad kedelapan, dan di Samarra, menunjukkan adanya pengaruh tradisi arsitektur Asia, khususnya Persia, berbeda dengan struktur bangunan Bani Umayyah yang lebih dipengaruhi oleh tradisi Bizantium-Suriah. Di bawah Dinasti Sasaniyah (226-641 H), arsitektur bergaya khas Persia mulai dikembangkan, dengan ciri utama kubah melengkung atau lonjong, lorong-lorong berbentuk setengah lingkaran, keramik didinding berglazur, dan atap berlapis logam. Model tersebut merupakan salah satu ciri paling kuat dalam perkembangan arsitektur periode  Abbasiyah.
Corak Arsitektur Umawi atau umayyah
Seiring dengan wafatnya Rasulullah saw dan berakhirnya era khalifah rasyidah serta berakhir pula masa kepemimpinan Ahlul Bait yang mulia (Imam Ali dan Imam Hasan as), berakhir pula masa-masa kesederhanaan dan mulailah Dinasti Umayyah memerintah dengan Dasmakus di Syam sebagai pusat pemerintahannya.
Sebelumnya, Suria, Palestina dan wilayah-wilayah Syam adalah daerah kristen dan merupakan bagian dari kekuasaan Byzantium, karena itu, Dinasti Umayyah I sangat terpengaruh dengan corak arsitektur kristen, seperti yang terlihat dalam corak Masjid Umawi di Damaskus saat itu. Bahkan, renovasi Masjid al-Aqsha dan Kubah Batu yang mulia juga dilakukan dengan metode yang menunjukkan keterpengaruhan mereka dengan seni kristen, meskipun mereka juga memasukkan karakter-karakter Islam. Mereka menambahkan dekorasi Arab, kubah dan menara ke dalam arsitektur kristen, sehingga membentuk corak unik arsitektur Umawi. Penambahan tulisan Arab dari beberapa juz al-Qur`an atau hadis yang mulia di sudut-sudut masjid membuat sentuhan seni menjadi sedemikian indah.
Kubah Batu (Qubbatu as- Sakhrah), Masjid al-Aqsha, Masjid Umawi, Masjid Qairawan yang didirikan Uqbah bin Nafi dan Masjid Zaitunah dianggap sebagai manifetsasi nyata dari corak arsitektur Umawi. Akan tetapi, di antara itu semua, Kubah Batu merupakan model istimewa yang layak mendapat perhatian dan disebut sebagai mahakarya yang paling minim pengaruh seni arsitektur kristen. Kubah Batu ini dibangun pada tahun 72 H / 691 M pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan.
Corak Arsitektur Abbasi atau Abbasiyyah
Jatuhnya Dinasti Umayyah di Damaskus memunculkan kekuasaan baru, Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini memerintah dengan Baghdad sebagai pusat pemerintahannya. Baghdad adalah sebuah kota Islam yang paling makmur dan paling terpengaruh oleh corak arsitektur Islam lama, corak Umawi, peradaban Babylonia dan sedikit pengaruh Persia dalam arsitektur bangunannya.
Corak khas Abbasiyah terlihat jelas dalam bentuk kubah dan menara-menara Islam. Corak ini memiliki keunikan tersendiri dengan pilar-pilar dan dekorasi di antara pilar dalam bentuk kubah di masjid-masjid besar.
Contoh terbaik masjid bercorak Abbasi adalah Masjid Jami di Samara, Masjid Riqqah, Masjid Abi Dulaf yang semuanya berada di Irak, serta Masjid Ibnu Thaulun di Mesir yang dibangun oleh Ibnu Thaulun pada tahun 256 H / 878 M, saat Dinasti Abbasiyah menunjuk Ahmad ibn Thaulun sebagai gubernur Mesir dan kemudian memproklamirkan berdirinya Dinasti Thauluniyah setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah di Bagdad.
Ibrah perkembangan kebudayaan pemerintahan bani Abbasiyah

Hikmah yang dapat diambil dari apa saja yang terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah
untuk kemajuan ilmu agama bagi umat islam diantaranya sebagai berikut:
a.Dengan adanya perkembangan dan kemajuan ilmu-ilmu agama kita dapat mengetahui dengan sebenar-benarnya ajaran yang disampaikan oleh Rosulullah saw untuk umatnya. 
b.Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat seharusnya kita dalam melaksanakan segala sesuatu harus bersumber pada Al-qur'an dan Hadits. Semua amalan yang tidak ada sumber hukumnya baik dari Al-qur'an, hadits ataupun Nash harus kita tinggalkan demi kokohnya keimanan kita terhadap Allah. Menempatkan Agama sebagai tolak ukur kebenaran dalam pemerintahan dan keadilan aturan hukum. 
c.Mempelajari sejarah bani Abbasiyah kita dapat mengetahui bahwa dari Dinasti Abbasiyah terdapat Khalifah-kahlifah yang benar-benar berpedoman pada Al-qur'an sehingga menuai kemakmuran dan mencapai puncak kejayaanya. 
d.Pada masa Dinasti Abbasiyah yaitu pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, agama diutamakan dalam menjalankan roda pemerintahan. Oleh karena itu kenajuan dan perdamaian serta barakah dapat terwujud.
e.Allah telah menjanjikan kepada umatnya agar selalu bertakwa. Oleh karena itu, Allah akan menurunkan barakah dari langit yang tiada terkira. Namun, kebanyakan manusia tidak mampu mewujudkan syukur kepada yang maha pemberi kenikmatan