Peninggalan peradaban islam
PENINGGALAN DINASTI ABBASIYAH
Benteng al-Ukhaider
Benteng al-Ukhaider terletak di
padang pasir berjarak 48 km dari kota Karbala dan 150 km di selatan kota
Baghdad, Irak. Benteng al-Ukhaider I merupakan salah satu benteng yang paling
indah dari jejak-jejak peninggalan kekuasaan Muslim. Tembok luar dari benteng
tersebut masih lengkap dan terawat dengan baik.
Benteng ini dibangun oleh salah
seorang pemimpin dari Dinasti Abbasiyah yang pernah berkuasa di Irak yakni Isa
ibn Musa pada 774 hingga 775 M. Di dalam benteng tersebut juga dibangun masjid
dan tempat tinggal semacam aparteman. Arsitektur dari benteng tersebut sangat
indah dan sangat menggambarkan arsitektur Islam.
Pada saat terjadinya perang
Teluk yang terjadi antara Irak dan Kuwait pada 1991, benteng tersebut pernah
diserang oleh dua pesawat terbang. Namun benteng peninggalan Dinasti Abbasiyah
tersebut tetap berdiri dengan kokohnya tanpa ada kerusakan yang cukup berarti.
Hal ini merupakan bukti kemampuan teknik bangunan yang tinggi dari arsiteknya.
Pada zaman dulu, benteng Al
Ukhaider sering menghubungkan antara Irak dengan dunia luar. Selain itu, banyak
para kafilah, pedagang dan orang-orang nomaden seperti Atshan dan Mujdah yang
sering singgah di benteng tersebut. Selain untuk singgah, benteng tersebut juga
berfungsi melindungi wilayah-wilayah di sekitarnya dari serangan orang asing.
Masjid ibn. Tholud
Masjid Ibn Thoulun dibangun pada
masa dinasti Abbasiyah, dibangun oleh Ahmad Ibn Thoulun yang merupakan gubernur
pada masa itu dan berkuasa antara tahun 868-884 Masehi. Masjid ini sebenarnya
berada di atas sebuah bukit kecil yang bernama Gabal Yashkur, namun
karena saat ini sudah menjadi kawasan pemukiman padat maka bukitnya sudah tidak
terlihat lagi. Menurut sejarah masjid ini adalah masjid istana dan letaknya
berdekatan dengan istana Ibn Thoulun, tapi pada abad awal abad 10 bangunan
istananya di runtuhkan sehingga peninggalan dinasti Tulunid hanya berupa masjid
ini saja.
Ruangan masjid Ibn Thoulun
hampir tidak bersekat dan berdaun pintu, terdiri dari pilar-pilar dengan bentuk
melengkung. Bagian pilar masjid terdapat ragam hias berupa ukiran dan
kaligrafi. Mimbar untuk khutbah berada di atas, mirip sebuah panggung.
arsitektur masjid ini sangat
berbeda dengan arsitektur masjid di Mesir pada umumnya. Masjid yang berbentuk
persegi dengan halaman tengah yang luas, hanya memiliki 1 menara tapi tidak
memiliki kubah kecuali pada bagian ablution fountain (tempat wudhu)
atau dalam bahasa arab disebut sabil yang berada di halaman tengah
masjid. Menara spiral yang berfungsi untuk tempat menyerukan adzan inilah yang
menjadi salah satu ciri khas masjid ini. Arsitektur masjid relatif simple dan
tidak banyak detail seperti yang terdapat pada masjid-masjid di Mesir. Masjid
Ibn Thoulun merupakan bangunan masjid tertua kedua di Mesir setelah masjid Amru
bin Aas.
Mimbar Shibam
masjid shibam didirikan oleh Sahabat Nabi, Labid ibn Ziyâd al-An?ârî,
ketika diutus oleh Rasulullah untuk membawa bendera Islam ke Negeri Yaman.
Hingga saat ini, masjid Jâmi Shibam telah mengalami beberapa
renovasi. Bahkan, bangunan otentik yang didirikan Sahabat Labid disinyalir
sudah tidak tampak lagi.
Dalam perjalanan historisnya, masjid ini pernah populer dengan sebutan Masjid Harun al-Rasyid. Hal ini disebabkan karena pada pemerintahan Dinasti Abbasiyah, Khalifah Harun al-Rasyid berperan besar dalam memberikan instruksi untuk merenovasi serta merekonstruksi bangunan masjid hingga menjadi sebagaimana yang ada sekarang. Hal ini begitu tampak pada rancang bangun serta seni ukiran masjid yang bercorak khas arsitektur Abbasiyah. Dan sebagaimana masjid di negeri Yaman pada umumnya, masjid ini juga dilengkapi dengan menara putih nan tinggi. Selain masjid Jami’ Shibam, ada sekitar enam masjid tua lain yang masih berdiri kokoh, antara lain: Masjid Ba?adzib, Masjid Khawqah, dan Masjid al-Madrasah.
Tidak jauh dari masjid Jâmi Shibam, ada sebuah museum kecil bersejarah yang tentu tak boleh dilewatkan begitu saja, apalagi kalau bukan Museum Mimbar. Dari namanya, sudah dapat diprediksi bahwa museum sempit berukuran 10 x 15 meter ini memang menyimpan peninggalan berharga warisan Dinasti Abbasiyah yaitu mimbar kayu. Sebagaimana maklum, mimbar adalah susunan anak tangga yang berfungsi sebagai tempat seorang Imam dalam menyampaikan khutbah kepada para jamaah, khususnya pada ritual salat Jumat.
Mimbar Shibam menjadi saksi bisu bagaimana seorang pemimpin politis sebuah pemerintahan juga memiliki peran vital dalam bidang agama. Usianya yang berabad-abad telah membuat rapuh sebagian besar pilar kayunya, sehingga pemerintah Yaman memutuskan untuk menonfungsikan mimbar itu dan diabadikan sebagai warisan berharga peninggalan sejarah. Museum Mimbar baru dibuka tahun 2009 M, dengan dukungan Tim Teknisi dari Jerman serta donasi dana dari Sekretaris Umum Sektor Pariwisata dan Barang-Barang Purbakala Saudi Arabia, Sultan ibn Salmin ibn Abd al-Aziz. Para pengunjung pun diperbolehkan untuk naik ke mimbar tersebut sekedar untuk berpose dan mengabadikan gambar.
Dalam perjalanan historisnya, masjid ini pernah populer dengan sebutan Masjid Harun al-Rasyid. Hal ini disebabkan karena pada pemerintahan Dinasti Abbasiyah, Khalifah Harun al-Rasyid berperan besar dalam memberikan instruksi untuk merenovasi serta merekonstruksi bangunan masjid hingga menjadi sebagaimana yang ada sekarang. Hal ini begitu tampak pada rancang bangun serta seni ukiran masjid yang bercorak khas arsitektur Abbasiyah. Dan sebagaimana masjid di negeri Yaman pada umumnya, masjid ini juga dilengkapi dengan menara putih nan tinggi. Selain masjid Jami’ Shibam, ada sekitar enam masjid tua lain yang masih berdiri kokoh, antara lain: Masjid Ba?adzib, Masjid Khawqah, dan Masjid al-Madrasah.
Tidak jauh dari masjid Jâmi Shibam, ada sebuah museum kecil bersejarah yang tentu tak boleh dilewatkan begitu saja, apalagi kalau bukan Museum Mimbar. Dari namanya, sudah dapat diprediksi bahwa museum sempit berukuran 10 x 15 meter ini memang menyimpan peninggalan berharga warisan Dinasti Abbasiyah yaitu mimbar kayu. Sebagaimana maklum, mimbar adalah susunan anak tangga yang berfungsi sebagai tempat seorang Imam dalam menyampaikan khutbah kepada para jamaah, khususnya pada ritual salat Jumat.
Mimbar Shibam menjadi saksi bisu bagaimana seorang pemimpin politis sebuah pemerintahan juga memiliki peran vital dalam bidang agama. Usianya yang berabad-abad telah membuat rapuh sebagian besar pilar kayunya, sehingga pemerintah Yaman memutuskan untuk menonfungsikan mimbar itu dan diabadikan sebagai warisan berharga peninggalan sejarah. Museum Mimbar baru dibuka tahun 2009 M, dengan dukungan Tim Teknisi dari Jerman serta donasi dana dari Sekretaris Umum Sektor Pariwisata dan Barang-Barang Purbakala Saudi Arabia, Sultan ibn Salmin ibn Abd al-Aziz. Para pengunjung pun diperbolehkan untuk naik ke mimbar tersebut sekedar untuk berpose dan mengabadikan gambar.
PENINGGALAN
DINASTI UMAYYAH
MASJID AGUNG DAMASKUS (SIRIA)
Damaskus sebuah kota terletak di tepian sungai Barada.
Sejak tahun 64 SM dikuasai oleh Roma, pemerintah dan penduduknya memeluk agama
Kristen. Pada tahun 636 M kekuasaan beralih ke tangan Arab yang muslin di bawah
Muawiyah pendiri Dinasti Umayyah (661-750), menjadikan Damaskus pusat
pemerintahan. Sejarah panjang kota Damaskus dengan berbagai pemerintahan
berbeda agama dan budaya membuat banyak peninggalan arsitektur percampuran dari
unsure-unsur gereja, kuil dan masjid. Gereja st. John berasal dari sebuah
kuil Romawi, dikelilingi tembok dirombak pada jaman Kristen. Kemudian al-Walid
(705-15) mengambil alih dan menjadikannya masjid, hingga sekarang
terkenal dengan nama masjid Agung Damaskus.
Tembok keliling dirombak sehingga terbentuk pola Hypostyle yaitu berupa sebuah sahn yaitu halaman dalam berbentuk segi
empat dikelilingi oleh bagian bangunan beratap. Sisi terpanjang sekitar 150 M,
tegal lurus sumbu arah kiblat, sisi terpendeknya sekitar 95 M berimpit dengan
arah kiblat. Luas masjid sekitar 14.250 M2 , denga bentuk denah
tersebut, susunan jamaah dalam bersembahyang, melebar kea rah kiblat.
Konstruksi, bentuk dan ornament-ornamen bagian depan sangat jelas mendapat
pengaruh arsitektur Romawi.
MASJID AGUNG DI KUFA (IRAK)
Tercatat iyad ibn Abih, salah seorang gubernur dari
pemerintahan Umayyah, masjid direnovasi dan perluas dengan ruang-ruang beratap
datar disangga oleh kolom-kolom batu. Menurut Tabari (838-923) seorang
sejarawan dan teolog, penentuan luas masjid dengan cara memerintahkan seseorang
untuk melempar tombak ke empat arah mata angin, yang diarah kiblat (selatan) kemudian
ditempatkan dinding kiblat, dengan cara ini ternyata dinding dan lajur
kolom-kolom tepat kea rah kiblat.
Denah majid Kufa, berpola hypostyle seperti masjid Nabi. Di tengah terdapat halaman dalam
atau sering disebut sahn atau zulla, dikelilingi oleh riwaq, haram atau ruang sembahyang yang
utama. Selain dinding luar yang sangat tebal, di dalam tidak ada dinding. Denah
terbentuk oleh dinding keliling tebal ini, hamper bujur sangkar, panjang
masing-masing dinding sisi tidak banyak berbeda, lebih kurang 125 M. selain
merenovasi Masjid agung, Ziyad ibn abih pada waktu bersamaan juga membangun
istana, berfungsi selain sebagai tempat tinggal juga menjadi tempat admnistrasi
pemerintahan. Bangunan sejenis ini kemudian disebut dar al-Imara, yang artinya rumah gubernur. Istana menempel dengan
masjid, sebagian dinding utara istana, menjadi satu dengan dinding selatan
masjid. Konon hal ini agar gubernur atau khalifah dapat masuk ke masjid tanpa
melalui jamaah lainnya.
MASJID AGUNG KORDOBA (SPANYOL)
Masjid Agung Kordoba mula pertama dibangun oleh abdur
Rahman I (756-788) pendiri dinasti Umayyah di Spanyol, melengkapi kota selain
sebagai pusat pemerintahan juga pusat kebudayaan muslim. Masjid Agung Kordoba
merupakan bentuk pengulangan arsitektur masjid Agung Damaskus. Membangun masjid
pada lokasi dan bangunan peninggalan Kristen seperti masjid agung Damaskus.
Pembangunan masjid dimulai pada 786 dan 787 di tepian sungai Guadalquivir.Denah
masjid agung Kordoba juga memakai bentuk arsitektur klasik hypostyle. Mula pertama pada masa Abdur Rahman I, bentuknya segi
empat panjang melebar, sisi panjang tidak kurang dari 80 M tegal lurus dengan
kiblat, sisi pendek sekitar 40 M, terdiri dari 12 deretan kolom dan sebelas
lajur.
KUBAH BATU KARANG
Abul Malik peguasa V (685-705) salah seorang pemimpin
terkuat dari Dinasti Umayyah mempunyai perhatian besar pada Jerussalem. Dia
membangun Kubah Batu (dome of the rock atau qubat al saka)di Jerussalem, higga
saat ini menjadi salah satu monumen Islam terbesar. Kubah Batu karang terletak
di atas buki karang dariGunung Moriah dibangun antara tahun 687-692. Gunung
Moriah diidentifikasikan sebagai tempat Nabi Ibrahimakan mengorbankan putranya
Nabi Ismail untuk dipersembahkan kepada Allah kemudia dihentikan oleh
malaikat.
Kubah Batu karang menjadi tempat suci ketiga dari
Islam setelah mekah dan madinah, merupakan salah satu monumen Islam tertua di
dunia. Puncak bukit Moriah dimana kubah batu karang ini berdiri dipercaya oleh
umat islam sebagai tempat Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW.
Perbedaan arsitektur dinasti
abbasiyah dengan dinasti umayyah
peradaban Abbasiyah, seperti yang
terdapat di Raqqah, abad kedelapan, dan di Samarra, menunjukkan adanya pengaruh
tradisi arsitektur Asia, khususnya Persia, berbeda dengan struktur bangunan
Bani Umayyah yang lebih dipengaruhi oleh tradisi Bizantium-Suriah. Di bawah
Dinasti Sasaniyah (226-641 H), arsitektur bergaya khas Persia mulai
dikembangkan, dengan ciri utama kubah melengkung atau lonjong, lorong-lorong
berbentuk setengah lingkaran, keramik didinding berglazur, dan atap berlapis
logam. Model tersebut merupakan salah satu ciri paling kuat dalam perkembangan
arsitektur periode Abbasiyah.
Corak Arsitektur Umawi atau umayyah
Seiring dengan wafatnya Rasulullah saw dan berakhirnya
era khalifah rasyidah serta berakhir pula masa kepemimpinan Ahlul Bait yang
mulia (Imam Ali dan Imam Hasan as), berakhir pula masa-masa kesederhanaan dan
mulailah Dinasti Umayyah memerintah dengan Dasmakus di Syam sebagai pusat
pemerintahannya.
Sebelumnya, Suria, Palestina dan wilayah-wilayah Syam
adalah daerah kristen dan merupakan bagian dari kekuasaan Byzantium, karena
itu, Dinasti Umayyah I sangat terpengaruh dengan corak arsitektur kristen,
seperti yang terlihat dalam corak Masjid Umawi di Damaskus saat itu. Bahkan,
renovasi Masjid al-Aqsha dan Kubah Batu yang mulia juga dilakukan dengan metode
yang menunjukkan keterpengaruhan mereka dengan seni kristen, meskipun mereka
juga memasukkan karakter-karakter Islam. Mereka menambahkan dekorasi Arab,
kubah dan menara ke dalam arsitektur kristen, sehingga membentuk corak unik
arsitektur Umawi. Penambahan tulisan Arab dari beberapa juz al-Qur`an atau
hadis yang mulia di sudut-sudut masjid membuat sentuhan seni menjadi sedemikian
indah.
Kubah Batu (Qubbatu as- Sakhrah), Masjid al-Aqsha,
Masjid Umawi, Masjid Qairawan yang didirikan Uqbah bin Nafi dan Masjid Zaitunah
dianggap sebagai manifetsasi nyata dari corak arsitektur Umawi. Akan tetapi, di
antara itu semua, Kubah Batu merupakan model istimewa yang layak mendapat perhatian
dan disebut sebagai mahakarya yang paling minim pengaruh seni arsitektur
kristen. Kubah Batu ini dibangun pada tahun 72 H / 691 M pada masa pemerintahan
Abdul Malik bin Marwan.
Corak Arsitektur Abbasi atau Abbasiyyah
Jatuhnya Dinasti Umayyah di Damaskus memunculkan
kekuasaan baru, Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini memerintah dengan Baghdad
sebagai pusat pemerintahannya. Baghdad adalah sebuah kota Islam yang paling
makmur dan paling terpengaruh oleh corak arsitektur Islam lama, corak Umawi,
peradaban Babylonia dan sedikit pengaruh Persia dalam arsitektur bangunannya.
Corak khas Abbasiyah terlihat jelas dalam bentuk kubah
dan menara-menara Islam. Corak ini memiliki keunikan tersendiri dengan
pilar-pilar dan dekorasi di antara pilar dalam bentuk kubah di masjid-masjid
besar.
Contoh terbaik masjid bercorak Abbasi adalah Masjid
Jami di Samara, Masjid Riqqah, Masjid Abi Dulaf yang semuanya berada di Irak,
serta Masjid Ibnu Thaulun di Mesir yang dibangun oleh Ibnu Thaulun pada tahun
256 H / 878 M, saat Dinasti Abbasiyah menunjuk Ahmad ibn Thaulun sebagai
gubernur Mesir dan kemudian memproklamirkan berdirinya Dinasti Thauluniyah
setelah runtuhnya Dinasti Abbasiyah di Bagdad.
Ibrah
perkembangan kebudayaan pemerintahan bani Abbasiyah
Hikmah yang dapat diambil dari apa saja
yang terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah
untuk kemajuan ilmu agama bagi umat islam diantaranya sebagai berikut:a.Dengan adanya perkembangan dan kemajuan ilmu-ilmu agama kita dapat mengetahui dengan sebenar-benarnya ajaran yang disampaikan oleh Rosulullah saw untuk umatnya.
b.Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat seharusnya kita dalam melaksanakan segala sesuatu harus bersumber pada Al-qur'an dan Hadits. Semua amalan yang tidak ada sumber hukumnya baik dari Al-qur'an, hadits ataupun Nash harus kita tinggalkan demi kokohnya keimanan kita terhadap Allah. Menempatkan Agama sebagai tolak ukur kebenaran dalam pemerintahan dan keadilan aturan hukum.
c.Mempelajari sejarah bani Abbasiyah kita dapat mengetahui bahwa dari Dinasti Abbasiyah terdapat Khalifah-kahlifah yang benar-benar berpedoman pada Al-qur'an sehingga menuai kemakmuran dan mencapai puncak kejayaanya.
d.Pada masa Dinasti Abbasiyah yaitu pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, agama diutamakan dalam menjalankan roda pemerintahan. Oleh karena itu kenajuan dan perdamaian serta barakah dapat terwujud.
e.Allah telah menjanjikan kepada umatnya agar selalu bertakwa. Oleh karena itu, Allah akan menurunkan barakah dari langit yang tiada terkira. Namun, kebanyakan manusia tidak mampu mewujudkan syukur kepada yang maha pemberi kenikmatan
nice tapi sebaiknya ditambah gambar biar lebih bagus. :)
BalasHapusBagus nih .. Bermanfaat .saya bisa mnjelaskan tentang peninggalan" bersejarah ke temen sekelas saat mapel SKI .. (Y)
BalasHapus